Quarter Life Crisis, Teror Buat Anak Muda di Tahun 2016
Pergantian tahun berarti juga penambahan umur. Khususnya buat anak muda di generasi 90-an awal, tahun 2016 ini bakal jauh lebih berbeda dibanding tahun sebelumnya. Ini bukan ilmu dukun tapi sejarah dan survei yang ngomong. Si pembeda itu namanya Quarter Life Crisis.
Buat yang asing sama istilah ini, Quarter Life Crisis adalah fase krisis yang dialami oleh seseorang di usia seperempat baya (25 yo, more or less) Jangan terpengaruh dan jadi negatif sama kata “Crisis”-nya, ya. Dalam berbagai survei, justru krisis ini adalah masa transisi yang bikin kalian jadi personal yang lebih baik, lebih tenang dalam berpikir dan dewasa menghadapi masalah. Menurut British Psychological Society dalam Discovery Magazine, 80% orang yang mengalami periode ini mengatakan bahwa hal tersebut adalah pengalaman positif.
Quarter Life Crisis muncul seperti teror yang menyerang pikiran dan perasaan. Sebelumnya ada hal tertentu yang kalian anggap nggak penting, lalu mendadak bikin insecure. Kalo nggak segera dibawa tenang dan positif, ujung-ujungnya bisa depresi, bikin marah atau sedih.
Sebelum dibahas lebih jauh, krisis ini terjadi pada hampir seluruh anak muda termasuk di dunia, tapi nggak semuanya ngerasa terbebani sama periode krusial ini, yang anggap masa bodo juga banyak.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan University of Greenwich, Inggris, ada 4 fase yang bakal dialami dalam krisis ini.
- Contriction Phase
Di fase ini faktor lingkungan berperan besar dalam menyulut tekanan. Kayak yang tadi udah dibilang sebelumnya, ada hal-hal yang nggak/belum kalian pikirin bisa seketika menjadi penting.
- Separation Phase
Muncul banyak perubahan dari diri sendiri dan sekitar. Mulai kebingungan dan khawatir. Ada tekanan yang cukup besar. Bakal ngerasa kesepian dan kecewa.
- Exploration Phase
Mulai sadar kalo kalian perlu meng-update misi dan visi pribadi. Apa yang belum dikejar, apa aja yang kelewat, dan apa yang perlu ditingkatin.
- Equilibration Phase
Fase klimaksnya disini. Bakal jauh lebih stabil, terarah dan jelas. Buat mencapai fase ini, nggak ada kepastian bakal makan waktu berapa lama. Rumusnya itu tenang.
Selanjutnya, seputar apa aja sih yang biasanya terjadi dalam Quarter Life Crisis? Let’s Read! Magazine melihat ada 3 hal yang umum dialami oleh anak muda pada periode ini.
Menikah
Punya pacar? Udah. Kapan nikah? Belum siap, banyak yang perlu dipertimbangin atau kelakar lainnya buat ngejawab pertanyaan yang satu itu.
Waktu terus jalan dan satu per-satu temen-temen kalian mulai menghalalkan hubungan pacarannya. Emang biasa aja sih dengernya, tapi lama-lama kepikiran juga. Apalagi orang tua sendiri dan orang tua pasangan kompak kasih dukungan buat segera nikah. Putus nggak mau tapi komitmen serius belum mampu jadi dilema yang bakal dialamin. Sementara yang masih single, nyoba buat realistis. Toh, emang belum ada pasangannya. Kasian.
Awalnya hal ini target jangka panjang. Terpengaruh sama lingkungan, lalu nikah masuk jadi rencana jangka pendek. Malah rasanya kayak diuber-uber harus cepet. Kalopun kondisi ini terjadi, mudah-mudahan bukan karena orang lain, tapi karena kalian dan pasangan ngerasa udah yakin. It’s big step, right?
Pekerjaan
Nyoba mikirin soal kerjaan. Walaupun udah nyaman, apa mau bertahan atau pindah ke perusahaan lain dengan asumsi bakal lebih baik? Apa pekerjaan saat ini udah sesuai sama keinginan dari semenjak masih kuliah?
Masalah timbul ketika kalian membanding-bandingkan apa yang temen kalian udah capai dengan apa yang kalian punya sekarang. Tekanan bakal jadi kompleks kalo dikaitin antara pekerjaan dan rencana buat segera menikah. Apa dengan kemampuan finansial dari pekerjaan yang sekarang udah cukup buat berumah tangga? Atau apa pekerjaan sekarang dapet restu oleh calon mertua?
Buat yang belum punya pekerjaan tetap, bohonglah kalo masih bisa santai dan nggak ada rasa panik, khawatir, gelisah dan sejenisnya. Kecuali kalian anaknya Bill Gates, menantunya Roman Abramovich, terus selingkuhan Sergey Brin, itu terserah deh.
Personal
Apa segala yang dipilih udah tepat? Apa yang udah bisa dikasih ke orang tua? 5 tahun lagi bakal jadi apa? Mau pertahanin idealis atau realistis? Ngerasa belum bisa mandiri. Ngerasa hidup mulai berat.
Mulai banyak introspeksi dengan menanyakan hal-hal penting ke diri sendiri. Coba deh mengurai apa aja yang ruwet di kepala, kemudian buat master plan untuk jangka waktu tertentu, serta meng-update visi dan misi pribadi, Terpenting, jangan mudah ketipu sama rasa lega setelah itu, karena kalo nggak dilakuin kan jadinya sama aja.
Sebagai bagian dari generasi 90-an, Let’s Read! Magazine mau bilang, kalian yang sedang berada dalam Quarter Life Crisis supaya nggak kelamaan kejebak sama situasi kayak gini. “Crisis” itu sebatas istilah dan “Teror” itu cuma pemanis judul aja biar kalian tertarik buat baca. (LetsReadMagazine/FKR)

